KABAR itu datang dari sidang International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) ke-27 di kantor Pusat UNESCO, Paris, Prancis pada 8-13 Juni 2015. Sidang itu menetapkan Bromo Tengger Semeru-Arjuna, Provinsi Jawa Timur dan Cagar Biosfer Takabonerate-Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai Cagar Biosfer.
Sidang yang dihadari sejumlah praktisi, pakar lingkungan, dan tokoh keanekaragaman hayati dunia itu sepakat mengukuhkan dua cagar biosfer baru di Indonesia sebagai warisan dunia yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai cagar biosfer.
Dikukuhkannya dua cagar biosfer baru Indonesia ini dimotori Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Ketua Komite Nasional MAB Program UNESCO Indonesia. LIPI bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dua cagar biosfer baru ini ditetapkan bersamaan dengan pengukuhan 16 cagar biosfer lain dari berbagai belahan dunia, termasuk Argentina, Bolivia, Ethiopia, Honduras, Iran, Italia, Kazakhstan, Mexico, Myanmar, Afrika Selatan, Spanyol, Portugal, dan Vietnam.
“Dengan pengukuhan ini, Indonesia kini memiliki 10 cagar biosfer yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves,” kata Deputi Bidang Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Enny Sudarmonowati dalam siaran pers di Jakarta, belum lama ini.
Kedua cagar biosfer yang baru diakui tersebut menjadi cagar biosfer ke-9 dan ke-10 dari Indonesia yang menjadi anggota MAB UNESCO. Delapan cagar biosfer Indonesia sebelumnya adalah cagar biosfer Cibodas (diakui pada 1977), Pulau Komodo (1977), Lore Lindu (1977), Tanjung Puting (1977), Gunung Leuser (1981), Siberut (1981), Giam Siak Kecil-Pulau Batu (1981), dan Wakatobi (2012).
Enny mengatakan pembangunan dan pengembangan cagar biosfer merupakan sarana untuk melaksanakan komitmen Indonesia dalam melaksanakan konvensi terkait lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim.
Menurut dia, penetapan cagar biosfer ditujukan untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan yang handal.
Duta Besar RI untuk UNESCO, Prof Fauzi Soelaiman menjelaskan konsep cagar biosfer telah digagas oleh UNESCO sejak tahun 1971. Seperti dikutip Antara, dia mengatakan hingga saat ini jumlahnya mencapai 467 kawasan di 120 negara di dunia.
Cagar biosfer menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan lingkungan melalui kemitraan antara manusia dan alam. Cagar biosfer merupakan kawasan yang ideal untuk menguji dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan yang mengarah kepada pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional.
Dia mengatakan cagar biosfer merupakan situs di darat, laut, atau pantai, yang dikelola secara inovatif dengan tujuan menyinergikan penduduk lokal dengan lingkungannya. Tujuan akhir cagar biosfer menggabungkan pelestarian keanekaragaman hayati dengan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan serta mempromosikan solusi lokal untuk memecahkan tantangan kemanusiaan yang dihadapi di wilayah tersebut.
Sejak 1982, Bromo Tengger ditetapkan sebagai Taman Nasional. Terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo, taman seluas sekitar 50.276,3 ha, ini bentangan dari barat ke timur sekitar 20-30 kilometer dan utara ke selatan sekitar 40 km. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.
Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana, dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun. Antara lain cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka. Pada dinding yang mengelilingi taman ini terdapat banyak rerumputan seperti mentigi, akasia, dan cemara.
Seperti halnya Bromo, Takabonerate juga telah ditetapkan sebagai taman nasional sejak 2005. Taka Bonerate adalah taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luas atol ini 220.000 hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km².
Kawasan ini berada di Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Di lokasi ini setiap tahun diadakan festival bertajuk Sail Taka Bonerate–sebelumnya disebut Takabonerate Island Expedition (TIE). ( Sumber : harnas.co )

