Selayar, Pelatihan Pemandu Wisata Budaya – Museum yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar telah dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 20-22 Agustus 2022. Pada hari terakhir pelatihan (22/08/2022), diadakan praktik lapangan di Museum Nekara Kabupaten Kepulauan Selayar. Sebanyak 40 peserta antusias melakukan praktik langsung menjadi pemandu wisata budaya museum, setelah mengikuti materi pemanduan yang dibawakan oleh pemateri-pemateri kompeten yang telah dihadirkan.
Untuk menciptakan situasi yang sesuai dengan kondisi pada saat sedang memandu wisatawan atau pengunjung, panitia khususnya Pihak UPTD. Museum Nekara telah mempersiapkan tanda nomor di beberapa koleksi sesuai jumlah kelompok yang dibagi ke peserta pelatihan. Koleksi museum yang dipersiapkan oleh peserta sebagai pemandu untuk dijelaskan diantaranya koleksi Prasejarah, Keramologika, hingga koleksi Teknologi Tradisional di Museum Nekara Kabupaten Kepulauan Selayar.
Lebih lanjut, pada saat praktik lapangan dilakukan, pemateri dan panitia berperan sebagai pengunjung yang diberikan informasi dan pengetahuan baru terkait koleksi museum oleh para peserta pelatihan yang berperan sebagai pemandu. Beberapa reviu dari pemateri setelah diadakan praktik lapangan ini diantaranya terkait penggunaan kata-kata yang mengisyaratkan jawaban ragu-ragu atau tidak yakin oleh para peserta pelatihan saat memberikan informasi terkait koleksi museum.
Pemateri dari Sekretaris Umum AMIDA (Asosiasi Museum Indonesia Daerah) Sulawesi, Ikbal, S.Sos., M.Si. mengungkapkan ulasannya setelah berperan sebagai pengunjung museum pada saat praktik lapangan tersebut.
“Reviu saya sebagai pengunjung ini untuk semua, jangan menjawab dengan kata-kata ‘kayaknya’, tidak bagus di dunia museum itu adalah jawaban yang ragu-ragu. Kata tersebut bisa diganti dengan kalimat ‘Mohon maaf kami tidak bisa memastikan, karena hanya sampai disini pengetahuan kami saat ini. Mungkin bisa jadi PR kami ke depan untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut nantinya.’ ungkap Beliau.
Hal senada juga disampaikan oleh Praktisi Museum, Irmina Maria Silas, terkait penggunaan kata-kata tidak yakin pada saat memberikan informasi terkait koleksi museum.
“Jangan gunakan kata-kata yang seperti tadi, ‘mungkin’, ‘katanya’. Dalam hal sejarah, budaya kalaupun kita ngomong ‘katanya’ itu berarti ‘kata tetua adat’, pastikan bukan hanya sekedar ‘katanya’, atau bisa saja dijelaskan menjadi ‘Saya pernah mendengar hal tersebut, tapi saya tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak, jadi saya tidak berani mengonfirmasi. Saya akan coba cari tahu lebih lanjut, ini informasinya benar atau tidak’. Kalian tidak dituntut sebagai seorang pemandu budaya itu betul-betul tahu semuanya secara detail, tidak. Tetapi pengetahuan umum itu sangat penting.” ungkap Irmina Silas.
Pentingnya pengetahuan umum terkait koleksi menjadi hal yang diutamakan sebagai seorang pemandu dan selalu berinisiatif untuk terus mencari informasi dan mengembangkan pengetahuannya.
“Kedepannya lebih memperhatikan narasi dari koleksi. Jika narasi koleksi disini tidak ada, bisa mencari dari sumber yang lain, misalnya dari Google. Museum dan budaya sangat kompleks, jadi tugas kita memang untuk lebih mencari sumber ilmu atau sumber pengetahuan di banyak sisi di bidang kebudayaan ini.” ucap Ikbal, S.Sos., M.Si.
Diketahui Pelatihan Pemandu Wisata Budaya – Museum ini menjadi pelatihan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik terakhir yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar di Tahun Anggaran 2022 ini. Panitia yang diwakili oleh Yulyvia Purnamawarti, S.Sos., Analis Kebijakan Muda Disparbud mengungkapkan harapannya ke peserta pelatihan agar kesempatan menerima materi dan praktik langsung ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan potensi diri sebagai seorang pemandu wisata budaya. (Dian-HumasDisparbud)



