Selayar, 14 Juni 2025 – Sebanyak 220 peserta turut meramaikan atraksi Assulo, tradisi tangkap ikan yang kini untuk pertama kalinya dikemas sebagai event wisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kegiatan ini bukan hanya sarat nilai budaya dan kebersamaan, tetapi juga membawa misi pelestarian laut.
Kegiatan yang sebelumnya dilakukan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan ini, kini diangkat dalam skala besar dengan semangat pelestarian dan promosi pariwisata. Technical meeting sebagai tahap persiapan teknis digelar Sabtu (14/6/2025) di Warkop Merah Putih, Kota Benteng, dengan agenda sosialisasi aturan main, pengumpulan masukan peserta, hingga penguatan komitmen menjaga kelestarian ekosistem laut.
“Belum pernah sebelumnya kegiatan Assulo diangkat ke dalam bentuk seperti ini. Ini membuat kami sangat antusias karena bisa menggabungkan nilai budaya, sosial, dan kelestarian lingkungan,” ujar Ahmad Oge panitia pelaksana yang juga Ketua Yayasan Budaya Veteran Art.
Peserta mendaftar di tiga kelurahan, yakni Benteng, Benteng Selatan, dan Benteng Utara. Area pelaksanaan mencakup wilayah Bonea hingga Parak serta Gusung.
Atraksi Assulo akan dilepas secara resmi Bupati Kepulauan Selayar pada Sabtu sore pukul 16.00 Wita di Warkop Merah Putih. Waktu kegiatan dibatasi hingga pukul 23.00 Wita, dengan toleransi hingga pukul 23.30 Wita bagi peserta yang masih dalam perjalanan kembali.
Untuk menjaga kelestarian alam, panitia menegaskan bahwa target tangkapan hanya diperbolehkan pada jenis-jenis yang umum dikonsumsi seperti ikan, cumi-cumi, dan kepiting. Peserta juga diminta berhati-hati agar tidak merusak kawasan terumbu karang di sekitar lokasi kegiatan.
“Kita juga bersinggungan dengan kawasan terumbu karang, jadi kami minta peserta untuk sangat berhati-hati agar tidak merusak biota laut,” kata Ahmad Oge.
Peserta diwajibkan mengenakan kartu tanda pengenal atau ID card dan mengikuti penimbangan hasil tangkapan secara tepat waktu untuk menjaga transparansi dan sportivitas. Penyerahan hadiah akan dilakukan setelah kegiatan usai, sebagai simbol apresiasi.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kepulauan Selayar, Nur Ihsan Chairuddin, menyatakan nilai kejujuran dan kebersamaan menjadi roh utama dari kegiatan ini.
“Kami mengganggap bahwa dalam kegiatan Assulo ini ada kearifan lokal yang mengandung nilai kejujuran, nilai kebersamaan, dan persaudaraan. Saya kira itu yang mau kita angkat kembali. Adapun hadiah itu cuma pemanis. Kami berencana untuk menjadikan kegiatan Assulo ini sebagai salah satu event wisata,” bebernya. (FitriSaid_HumasDisparbud)



