Kepulauan Selayar, 28 April 2025 — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX melaksanakan kegiatan pencatatan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dan melibatkan pamong budaya, pengolah data, serta pengadministrasi data penyajian dan publikasi BPK Wilayah XIX.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kepulauan Selayar, Nur Ihsan Chairuddin, S.S., bersama Kepala Bidang Kebudayaan dan jajaran staf. Fokus utama dari kegiatan ini adalah penguatan data untuk pengusulan kesenian Batti’-Batti’ menjadi Warisan Budaya Tak Benda Dunia.
Pada kesempatan tersebut, Kadisparbud Kepulauan Selayar mengapresiasi langkah konkret pelestarian budaya ini, serta dukungan penuh dan optimisme bahwa melalui kerja sama semua pihak, kesenian Batti’-Batti’ dapat meraih pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia.
Batti’-Batti’, kesenian khas Kepulauan Selayar, sebelumnya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kini, melalui pendataan ulang dan pengumpulan informasi secara langsung dari para maestro, serta penggiat budaya, BPK Wilayah XIX tengah mempersiapkan pengusulan Batti-Batti ke tingkat dunia melalui mekanisme pengakuan UNESCO.
Salah satu narasumber yang diwawancarai adalah Supriadi B, S.P., Adyatama Kepariwisataan dan Ekraf Disparbud Kepulauan Selayar, yang juga merupakan penggiat budaya daerah yang telah lama berperan dalam pelestarian kesenian lokal. Beberapa aspek yang dibahas dalam wawancara antara lain tentang sosok maestro Batti’-Batti’, keberadaan pemain aktif saat ini, proses regenerasi generasi penerus, serta kiprah Batti’-Batti’ yang telah mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia dalam ajang-ajang nasional, hingga internasional.
Selain itu, tim BPK Wilayah XIX didamping oleh Bidang Kebudayaan Disparbud Kepulauan Selayar sebelumnya juga telah melakukan kunjungan langsung dan wawancara dengan maestro Batti’-Batti’, Sapriadi, yang beralamat di Desa Kalepadang, Kecamatan Bontoharu, untuk mendokumentasikan warisan budaya kesenian ini.
Sebagai informasi, kelompok musik Batti’-Batti’ Selayar pada 2017 lalu, pernah tampil di tiga kota besar di Belgia—Brussels, Oudenburg, dan Ghent. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat, memukau penonton dengan kekhasan musik Batti-Batti, lagu-lagu berbahasa Selayar, kostum adat khas, serta alat musik tradisional seperti gambus dan rebana, yang menjadi ciri khas pertunjukan ini.
Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda ini merupakan bagian penting dari proses pendaftaran dan pelindungan unsur budaya masyarakat. Melalui pencatatan yang sistematis, diharapkan Batti’-Batti’ dapat memperkuat identitas nasional dan memperjelas asal-usul budaya Indonesia di mata dunia. (Dian-HumasDisparbud)


